Seder dan Haggadah-nya

Seder dan Haggadah-nya

Seder dan Haggadah-nya

Paskah Yahudi (Passover) dimulai pada malam hari tanggal 15 bulan Nisan dalam kalender Ibrani. Setelah ibadah malam, keluarga dan teman-teman berkumpul untuk Seder, salah satu jamuan seremonial paling penting dalam kalender Yahudi dan ritual yang paling banyak dijalankan oleh orang Yahudi di seluruh dunia saat ini. Seder adalah rangkaian panjang yang bisa memakan waktu berjam-jam dan berlangsung hingga larut malam.


Setelah duduk, umat Yahudi mengikuti tata cara dalam Haggadah, yang berisi teks-teks Yahudi dan petunjuk yang digunakan sebagai buku panduan selama Seder Paskah. Kisah-kisah dalam Haggadah berkisar pada kisah keluarnya bangsa Yahudi dari Mesir, serta anekdot dan perumpamaan tradisi Paskah.


Haggadah dibagi menjadi dua belas bagian:


Kadesh: Seder dimulai dengan pembacaan Kiddush, doa atas segelas anggur (cawan pertama), untuk menguduskan hari raya dan jamuan makan.

Urchatz: Para peserta membasuh tangan sebagai simbol penyucian diri.

Karpas: Sayuran, biasanya peterseli atau seledri, dicelupkan ke air garam dan dimakan untuk melambangkan air mata yang diteteskan bangsa Yahudi saat diperbudak.

Yachatz: Sepotong matzah dipecah dan setengahnya disisihkan untuk dimakan nanti sebagai afikoman.

Maggid: Kisah keluarnya bangsa Yahudi dari Mesir diceritakan kembali, termasuk Sepuluh Tulah, kepergian dari Mesir, dan terbelahnya Laut Merah. Empat Pertanyaan diajukan, dan Empat Anak dibahas, masing-masing mewakili tipe anak yang berbeda dan pertanyaannya. Di akhir bagian Maggid, para peserta meminum cawan anggur atau jus anggur kedua.

Rachtzah: Tangan dibasuh kembali, kali ini sebagai persiapan untuk makan matzah.

Motzi Matzah: Doa atas matzah dibacakan, lalu para peserta makan matzah.

Maror: Sayuran pahit, biasanya lobak pedas (horseradish), dimakan untuk melambangkan kepahitan perbudakan.

Korech: Sandwich dari matzah, sayuran pahit, dan charoset (campuran apel cincang, kacang, dan anggur) dimakan untuk melambangkan adukan semen yang digunakan budak Yahudi untuk membangun bangunan di Mesir.

Shulchan Orech: Hidangan pesta disajikan, termasuk makanan khas Paskah seperti brisket, ayam, dan sup bola matzah.

Tzafun: Afikoman, potongan matzah yang disisihkan sebelumnya, ditemukan dan dimakan, melambangkan korban Paskah dan penebusan bangsa Yahudi.

Barech: Birkat Hamazon, doa setelah makan, dibacakan, dan di akhir doa ini cawan ketiga diminum.

Hallel: Mazmur pujian dibacakan, diikuti dengan pembacaan Hallel Besar, dan diakhiri dengan cawan anggur atau jus anggur keempat.

Nirtzah: Seder diakhiri dengan doa agar Tuhan menerima Seder dan hari raya Paskah.


Seder ditandai dengan sifatnya yang interaktif – semua yang hadir diajak untuk berpartisipasi – dan ritual-ritual khususnya. Empat cawan anggur masing-masing memiliki makna simbolis tersendiri:


1.      Cawan pertama, yang dikenal sebagai cawan Kiddush, digunakan untuk menguduskan hari raya dan jamuan makan, serta mengungkapkan rasa syukur atas berkat musim tersebut.

2.      Cawan kedua diminum setelah kisah keluarnya bangsa Yahudi dari Mesir diceritakan, untuk mengingatkan peserta akan janji Tuhan membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan.

3.      Cawan ketiga diminum setelah Birkat Hamazon, doa setelah makan, dan dikenal sebagai Cawan Penebusan, melambangkan penebusan bangsa Yahudi dari perbudakan.

4.      Cawan keempat diminum setelah doa Hallel selesai, dan dikenal sebagai Cawan Penerimaan, melambangkan penerimaan bangsa Yahudi atas perjanjian Tuhan dan komitmen mereka untuk mengikuti hukum-Nya.


Beberapa penafsiran menyatakan bahwa empat cawan ini juga berkaitan dengan empat tahap penebusan yang disebutkan dalam Taurat: "Aku akan membawa kamu keluar," "Aku akan melepaskan kamu," "Aku akan menebus kamu," dan "Aku akan mengambil kamu menjadi umat-Ku." Dengan meminum keempat cawan ini, para peserta menegaskan keyakinan mereka pada rencana penebusan ilahi dan komitmen mereka untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.


Momen penting lainnya adalah pembacaan Empat Pertanyaan, biasanya diucapkan atau dinyanyikan dengan suara lantang oleh anak-anak, yang bertujuan membangkitkan rasa ingin tahu dan mendorong diskusi tentang makna dan simbolisme hari raya Paskah.


Empat Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:


1.      "Mengapa malam ini berbeda dari malam-malam lainnya?" – Pertanyaan ini menjadi pengantar Seder dan menyoroti keistimewaan hari raya Paskah.

2.      "Mengapa kita makan roti tak beragi (matzah) dan bukan roti biasa?" – Pertanyaan ini mengajak diskusi tentang alasan sejarah mengapa bangsa Yahudi makan matzah saat mereka buru-buru meninggalkan Mesir.

3.      "Mengapa kita makan sayuran pahit (maror)?" – Pertanyaan ini mengajak untuk merenungkan kepahitan perbudakan dan penderitaan yang dialami bangsa Yahudi.

4.      "Mengapa kita mencelupkan sayuran dua kali (karpas)?" – Pertanyaan ini mengajak diskusi tentang simbolisme di balik pencelupan sayuran ke air garam, yang melambangkan air mata selama masa perbudakan.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dan berdiskusi tentang jawabannya, para peserta memperdalam pemahaman mereka tentang hari raya Paskah dan maknanya dalam sejarah serta tradisi Yahudi.


Keseluruhan Seder mungkin paling baik dirangkum oleh pernyataan pembuka yang dibacakan oleh pemimpin Seder: "Ha Lachma Anya" (הא לחמא עניא) adalah frasa dalam bahasa Ibrani-Aram yang berarti "Inilah roti penderitaan." Pernyataan ini merujuk pada matzah, atau roti tak beragi. Matzah disebut "roti penderitaan" karena melambangkan tergesa-gesanya bangsa Yahudi meninggalkan Mesir, tanpa cukup waktu untuk membuat roti mereka mengembang. Pernyataan Ha Lachma Anya dilanjutkan dengan undangan kepada siapa saja yang membutuhkan untuk bergabung dalam perayaan Paskah: "Siapa pun yang lapar, datanglah dan makan; siapa pun yang membutuhkan, datanglah dan rayakan Paskah bersama kami." Ini mencerminkan semangat keramahan dan inklusivitas yang menjadi inti hari raya Paskah, serta nilai Yahudi untuk membantu mereka yang membutuhkan. Paskah merayakan kebebasan bangsa Yahudi dengan mengenang masa mereka sebagai bangsa yang diperbudak.